2012 ©feryarifian. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 25 Mei 2012

MEMAHAMI POLUSI DAN DAMPAKNYA TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN




1. Sumber Polusi

Polusi atau pencemaran lingkungan berdasarkan Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982. diartikan sebagai peristiwa masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan apabila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat rnemberikan efek merusak.

Suatu zat dapat disebut polutan apabila (1). Kadar polutan jumlahnya melebihi jumlah normal dalam lingkungan (2). Polutan berada pada lingkungan tersebut pada waktu yang tidak tepat, artinya polutan berada cukup lama dan mengganggu aktivitas dan kesehatan makhluk hidup. (3). Polutan menetap atau berpindah tempat dan akhirnya berada pada suatu daerah/lokasi atau wilayah, tempat tertentu yang mengganggu keseimbangan lingkungan.
Dalam sejarah kehidupan, dibandingkan kelompok spesies yang lain manusia memiliki populasi yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan populasi tumbuhan maupun hewan, namun manusialah sebagai penentu kelestarian lingkungan hidup. Manusia merupakan makhluk yang pertama kali bersedia menerima amanah dari Tuhan untuk mengelola alam semesta ini. Dalam perkembangan pengelolaan lingkungan ini, manusia selalu berusaha untuk dapat menguasai alam semesta.
Di alam semesta inilah manusia sebagai makhluk yang paling berhak mengatur, menata, dan memanfaatkan lingkungan sesuai dengan kebutuhannya, sedang makhluk lainnya tidak diberi kesempatan mengatur alam semesta ini. Berkat kemampuan berpikir, bernalar manusia dapat mengatur, memanfaatkan sumber daya alam hayati maupun non hayati untuk kebutuhan hidup dan kehidupannya. Cara memanfaatkan sumber daya alam ini dilakukan lewat berbagai cara yang kesemuanya itu ditujukan untuk mencapai kemakmuran hidup, kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia beserta anak turunnya.
Dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam manusia lewat kemampuan intelektualnya, di samping ada aspek positif yakni adakemanfaatannya bagi makhluk hidup, tetapi ada sisi negatif yang muncul dan mengiringi yakni rusaknya sumber daya alam. Dalam kenyataan sehari-hari seringkali juga memusnahkan sumber daya alam flora maupun fauna serta manusia itu sendiri.
Pertambahan jumlah populasi manusia, berkembangnya IPTEK dan industrialisasi berdampak ganda yakni selalu ada dampak positif dan negatif. Pada mulanya industrialisasi bertujuan agar kesejahteraan hidup manusia dapat meningkat, namun di sisi yang lain ternyata juga berdampak negatif khususnya pada aspek kualitas lingkungan hidup. Lebih-lebih kegiatan industri yang menggunakan bahan bakar fosil yang semakin berkembang akan dibarengi dengan upaya ekplorasi sumber daya alam yang semakin pesat pula. Akibatnya sumber polusi menjadi beragam jenisnya.
Bila dikaji secara seksama di kota-kota besar, misalnya Jakarta, polusi menjadi masalah manusia diperkotaan disebabkan oleh berbagai sebab, di antaranya adalah :
a.    meningkatnya pengaruh lingkungan terhadap aktivitas manusia
b.    semakin kecilnya sumber daya alam yang dapat dilestarikan
c.    semakin meningkatnya produksi pangan untuk mencukupi kebutuhan makhluk hidup.
d.    meningkatnya urbanisasi yang mengakibatkan daya dukung llingkungan perkotaan menjadi rendah.
e.    tumbuh suburnya modernisiasi lewat industrialisasi, serta kebergantungan manusia pada produk teknologi yang semakin meningkat.

Kelima hal di atas menjadikan penyebab munculnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan dapat bersumber dari kelompok biotik dan abiotik. Daya dukung lingkungan yang tak terkendali menyebabkan munculnya polusi. Sumber pencemar yang disebut polutan ini dapat berasal dari kelompok biotik dan abiotik.
Suatu zat disebut polutan apabila jumlahnya melebihi kapasitas lingkungan alam untuk menampungnya atau junlahnya di atas normal dan berada pada saat dan tempat yang tidak tepat.. Polusi yang berasal dari biotik adalah pencemaran lingkungan bersumber dari makhluk hidup misalnya limbah berasal dari sisa pembakaran dari bahan bakar fossil, sampah atau limbah Polutan ini dapat berasal dari sisa-sisa tumbuhan, hewan dan manusia. Sebaliknya polutan yang berasal dari sumber abiotik artinya munculnya polusi ini berasal bukan bersumber dari makhluk hidup.
Misalnya limbah yang berasal dari buangan proses kimia, fisika dan akibat bencana alam.

2. Mengidentifikasi Jenis Limbah

Berdasarkan jenisnya limbah dibedakan menjadi limbah padat, cair dan gas serta limbah energi. Limbah padat berupa benda padat yang di buang ke lingkungan, misalnya partikel padat yang dikeluarkan dalam cerobong asap dan aliran air, detergen padat, logam serta limbah lainnya.
Limbah cair dapat berupa minyak, asam sulfat, air raksa yang larut di udara dan air serta lainnya. Limbah berupa gas antara lain carbon dioksida, carbon monoksida yang keluar dari knalpot kendaraan bermotor, cerobong asap, amoniak yang dibuang ke ke lingkungan sekitar dan sebagainya. Ukuran pencemaran udara yang banyak dikenal dinyatakan dengan ppm singkatan dari part per million yang artinya banyaknya limbah yang dinyatakan dalam cc per satu meter kubik udara. Limbah energi terjadi akibat energi bunyi misalnya terjadinya kebisingan akibat mesin menghasilkan bunyi yang keras.
Polusi dapat terjadi manakala bahan pencemar yang mengotori lingkungan telah melebihi ambang batas dan berpengaruh terhadap kehidupan.
Untuk mempelajari jenis polusi ini secara sederhana dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yakni limbah digolongkan berdasarkan pada :
a.    Tempat terjadinya polusi
b.    Bahan pencemar
c.    Tinggi rendahnya kadar pencemar.

Berdasarkan tempat terjadinya polusi, yakni limbah yang dapat mengotori dan berpengaruh terhadap kualitas tempat, misalnya polusi di udara, air, tanah. Polusi udara terkait dengan keberadaan partikel atau zat di udara atau larutnya bahan kimia di udara lalu dihirup oleh makhluk hidup sehingga dapat mengganggu kehidupan. Misalnya gas karbondioksida, karbonmonoksida yang produk buangan dari sisa pembakaran pada mesin atau kendaraan bermotor yang dikeluarkan lewat knalpot mesin atau kendaraan bermotor. Gas H2S beracun dan banyak dijumpai di daerah gunung berapi. Gas Nitrogendioksida, sulfurdioksida yang terbentuk saat pembakaran batubara, dan sebagainya.
Polusi pada air dikenali lewat bau, rasa dan warna. Dengan membandingkannya dengan air bersih yang layak diminum polusi air disebabkan oleh berbagai jenis pencemar yang berasal dari sisa limbah industri, sampah organik dan anorganik. Limbah industri dan rumah tangga terjadi pada pemukiman yang berada di sekitar daerah aliran sungai apabila di sepanjang muara sungai tersebut terdapat industri yang membuang limbahnya ke sungai. Limbah ini bisa berupa detergen, logam-logam berat, atau senyawa air raksa. Pada lingkungan pertanian limbah dapat berasal dari bahan pembuat pupuk yang selanjutnya terjadi penimbunan yang melebihi daya dukung air sehingga tumbuhan dan binatang air tak mampu bertahan hidup lebih lama.
Polusi pada tanah disebabkan oleh berbagai sebab di antaranya sampah plastik yang sukar hancur dalam tanah, botol plastik, kaca, karet sintesis dan kaleng. Detergen yang secara alami sulit diuraikan dalam air akan terserap oleh tanah sehingga mengotori lingkungan tempat tinggal.
Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, mesin pabrik yang sedang beroperasi, pesawat terbang dengan frekuensi penerbangan yang tinggi, suara yang berasal dari speaker pada tape recorder atau bunyi amplifier yang digunakan dalam kegiatan dengan musik di gedung auditorium
Apabila polusi dibedakan berdasar bahan pencemarnya maka dikenal polusi kimiawi, biologi dan fisika. Uraian di depan telah diberikan contoh berbagai polutan yang bersumber dari bahan kimia, misalnya carbon dioksida, carbon monoksida di udara, hidrocarbon, hidrogen sulfat juga banyak dijumpai pada polusi udara. Pada polusi air juga banyak terlarut bahan kimia yang membahayakan, misalnya zat radioaktif, logam-logam seperti Hg, Pb, As, Cd, dan Cr. Tinggi rendahnya bahaya polusi kimia ini didasarkan ukuran atau parameter tetentu. Misalnya parameter kimia, biologi dan fisik.
Termasuk parameter kimia antara lain tingkat keasaman, alkalinitas, logam berat yang terlarut. Polusi yang bersumber dari biologi pada umumnya berkaitan dengan kerja mikrorganisme yang mengganggu.
Misalnya gangguan limbah pada sumur akibat tercemar berbagai bakteri dan baksil sebagai bibit penyakit. Parameter biologi meliputi ada tidaknya mikroorganisme pengganggu. Misalnya jumlah bakteri e-coli, virus, bentos dan plankton. Dalam hal yang lain berkaitan dengan mikroorganisme, ukurannya didasarkan pada parameter biokimia misalnya BOD (Biochemical Oxygen Demand) yakni jumlah oksigen dalam air untuk mengukur banyaknya pencemar organik. Selanjutnya polusi berasal dari bahan fisik misalnya plastik, kaleng, botol kaca dan karet. Ukuran atau parameter fisik meliputi suhu, warna, rasa, bau, tingkat kekeruhan serta radio aktivitas.
Polusi berdasarkan tinggi rendahnya bahan pencemar dibedakan menjadi (a) polusi yang menimbulkan iritasi, (b) polusi yang menyebabkan reaksi faal tubuh manusia dan (c) polusi yang telah merusak lingkungan dalam kadar yang tinggi. Ukuran di atas di dasarkan pada ketentuan dari WHO, yang menyatakan besaran tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan lama waktu kontak antara pencemar dengan makhluk hidup, khususnya manusia. Gangguan iritasi terutama terjadi setelah kontak antara pencemar dengan panca indera manusia dan tubuhnya serta dapat menimbulkan gangguan iritasi.
Di samping itu limbah juga telah dapat mengganggu ekosistem lain. Misalnya : mata akan terasa pedih saat terkena gas buang dari kendaraan bermotor, terjadi gangguan pernafasan saat menghirup udara kotor dan sebagainya. Pada keadaan yang telah menganggu yakni pencemaran telah mengakibatkan reaksi faat tubuh dapat lebih berbahaya.
Hal ini bila berlangsung lama yang dapat menyebabkan penyakit kronis. Misalnya penyakit yang timbul akibat senyawa air raksa telah masuk ke tubuh manusia dan menyerang syaraf, contoh kasusnya adalah kanker atau kelainan seperti kejadian yang pernah di alami di Minamata Jepang.
Pencemar dengan kadar yang besar, pada umumnya terjadi manakala terjadi kebocoran dari suatu instalasi nuklir. Polutan yang dikeluarkan berupa zat radioaktif yang berbahaya. Misalnya terjadinya kebocoran reaktor Nuklir di Chernobil Rusia, kebocoran yang terjadi di Bhoppal India dan sebagainya. Kebocoran semacam ini sangat berdampak negatif dan berlangsung sangat lama sehingga kehidupan makhluk di muka bumi terganggu.

3. Mengidentifikasi Jenis Polusi Pada Lingkungan Kerja

Secara minimal lingkungan kerja yang baik, manakala manusia terpenuhi kebutuhan akan makanan, air bersih dan udara bersih. Makanan yang baik bila memenuhi syarat empat sehat lima sempurna, yang meliputi kecukupan karbohidrat dalam bentuk sepiring nasi, kebutuhan lemak dengan sekerat daging, kebutuhan mineral dengan sayur-sayuran serta kebutuhan vitamin dengan buah-buahan dan protein dari susu. Dengan 1 kg makanan pada manusia dewasa, kira-kira dapat bertahan hidup dalam seminggu, sedangkan 2 kg air bersih manusia bertahan hidup selama 2 hari dan kebutuhan akan udara bersih 15,5 kg oksigen perhari. Gejala kekurangan oksigen ditandai dengan gangguan pernafasan yang seringkali diikuti dengan pilek dan flu. Apabila kekurangan menjadi akut akan berbahaya bagi kesehatan, yang ditandai dengan radang sendi bahkan kanker seringkali menghinggapi manusia yang kekurangan oksigen.
Dalam kehidupan sehari-hari upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup diwujudkan dalam cara memperoleh bahan makanan yang halal dan bernilai gizi tinggi. Keperluan bahan makanan yang berasal dari lingkungan pedesaan penting mandapatkan perhatian, agar para petani di pedesaan dapat memberdayakan kehidupannya dengan bertani. Bahan makanan yang nilai gizinya tinggi berasal dari lingkungan pedesaan cukup banyak.

3.1. Kebisingan Bunyi

Kebisingan suara merupakan salah satu jenis polusi pada lingkungan kerja pada umumnya. Kebisingan ini juga merupakan salah satu masalah yang berkaitan dengan polusi lingkungan udara. Polusi akibat kebisingan semakin menjadi masalah manakala jumlah populasi manusia bertambah banyak dan semuanya hidup dalam lahan yang terbatas. Di negara Indonesia umumnya gangguan kebisingan terjadi di lingkungan perkotaan dengan industri yang berkembang pesat. Pada daerah perkotaan dengan rapat populasi yang besar kebisingan bahkan dapat menjadi ancaman kesehatan manusia.
Gangguan kerja akibat kebisingan semakin besar manakala bekerja pada daerah yang dekat dengan sumber bunyi yang selalu berisik. Tingkat kebisingan yang tinggi akan dapat mengakibatkan gangguan pendengaran, gangguan emosi bahkan gangguan jantung. Gangguan kebisingan ini dapat berlangsung pada saat bekerja, berbicara dan bahkan saat sedang beristirahat.
Kebisingan dalam pengertian fisika dapat diartikan sebagai informasi berbentuk suara yang tidak menyenangkan didengar dan tidak dikehendaki oleh manusia. Hal ini disebabkan intensitas sumber bunyi yang merambat sangat tinggi. Suara bising yang berlangsung terus menerus akan sangat mengganggu pembicaraan, kenyamanan dalam bekerja dan kenyamanan manusia dalam beristirahat. Lebih lanjut suara bising dapat mengganggu dan merusak pendengaran.
Menurut kajian fisika suara atau bunyi tergolong sebagai gelombang mekanik yang memindahkan informasi dari satu tempat ke tempat lainnya lewat medium tetentu. Dalam perambatannya medium dapat berupa udara/gas, zat cair maupun zat padat. Intensitas bunyi adalah energi rerata yang dihasilkan oleh sumber bunyi tiap satuan waktu tiap satuan luas permukaan. Intensitas juga diartikan sebagai daya bunyi rerata tiap satuan luas permukaan. Permukaan yang dimaksud di sini adalah permukaan yang tegak lurus terhadap arah rambatan gelombang bunyi. Energi dalam medium yang dilewati gelombang bunyi bergantung pada energi kinetik dan potensial. Energi potensial berupa kompresi medium, sedangkan energi kinetik berupa gerak partikel yang dilewati gelombang. jumlah kedua energi ini selalu tetap pada setiap gerak gelombang.
Dalam hal intensitas bunyi, semakin lebar permukaan yang dapat menangkap gelombang bunyi maka dengan energi bunyi yang kecil dapat ditangkap dengan baik. Sebaliknya makin kecil luasan yang dapat menangkap sumber bunyi memerlukan energi bunyi yang semakin besar.
Apabila luas penampang dinyatakan dengan A, gelombang bunyi merambat di udara dengan cepat rambat v, amplitudo tekanan P dan massa jenis udara ρo maka besarnya intensitas bunyi berbanding lurus dengan kuadrat amplitudo dan berbanding terbalik dengan cepat rambat bunyi. Dengan persamaan matematis dapat dinyatakan :

I = (P)2 / ( 2 ρo v)

Dalam praktik sehari-hari gelombang bunyi yang memiliki amplitudo tekanan sebesar 280 dyne/cm2 memiliki intensitas ternyaring yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran (telinga) kita tanpa rasa sakit.
Amplitudo tekanan terlemah yang masih dapat didengar kira-kira berada pada 0,0002 dyne/cm2 atau kira-kira memiliki intensitas 10-16 watt/cm2.
Untuk amplitudo tekanan di atas 280 dyne/cm2 bunyi yang ditangkap oleh telinga menjadi tidak nyaman dan dapat merusakkan kemampuan pendengaran. Daya rerata yang dibawa oleh gelombang bunyi lewat permukaan sama dengan hasil kali antara intensitas dengan luas bidang permukaan.
Dalam hal tertentu, terkait dengan daerah yang dapat diterima oleh telinga manusia, ukuran yang banyak digunakan adalah taraf intensitas. Taraf intensitas adalah logaritma intensitas bunyi dengan intensitas ambang pendengaran. Secara matematis dinyatakan dengan

TI = log ( I/Io ) Bel
atau
TI = 10 log ( I/Io ) deci Bel; 1 Bel = 10 dB
TI = 10 log ( I/Io ) dB

Io disebut intensitas ambang pendengaran = 10-16 watt/cm2. Satuan watt/cm2 merupakan satuan yang banyak digunakan dalam akustik dan intensitas terbesar yang masih dapat ditangkap telinga tanpa rasa sakit adalah 10-4 watt/cm2. Pengukuran taraf intensitas dapat dilakukan dengan dengan peralatan alat pengukuran taraf intensitas.

3.2. Polusi Udara

Polusi lingkungan kerja yang lain adalah polusi udara dan air Polusi udara di sekitar lingkungan kerja yang banyak dijumpai adalah pengotoran udara akibat gas buang dari kendaraan bermotor. Pencemaran udara disebabkan oleh sumber alami maupun oleh kegiatan manusia. Sumber pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan sekunder.
Pencemaran udara terkait dengan keberadaan partikel atau zat di udara dan larutnya bahan kimia di udara lalu dihirup oleh pekerja sehingga dapat mengganggu kesehatannya. Misalnya gas karbondioksida, karbonmonoksida buangan dari sisa pembakaran yang lewat knalpot kendaraan bermotor, hidrokarbon (HC) merupakan pencemar primer.
Akibat reaksi kimia pencemar primer dengan bahan pencemar lain di udara disebut pencemar sekunder. Misalnya oksida nitrogen, oksida belerang. Hasil pengukuran kadar polutan tersebut di kota-kota besar tidak kurang dari 200 mikrogram tiap meter kubik udara. WHO memberikan batasan maksimum 60-90 mikrogram per meter kubik.
Pencemaran udara ditimbulkan oleh sumber alami maupun kegiatan manusia. Sumber alami berasal dari peristiwa alam, seperti letusan gunung berapi, akan membawa partikel debu yang masuk ke udara. Larutnya partikel tersebut tentu akan membahayakan kesehatan manusia. Sebaliknya sumber yang berasal dari perilaku manusia lebih mengacu pada pemanfaatan teknologi oleh manusia yang berdampak negatif terhadap udara. Misalnya penggunaan kendaraan bermotor akan membawa beragam gas yang membahayakan manusia.
Sebagai suatu sistem yang kompleks atmosfir terdiri dari beraam gas, uap air dan debu. Atmosfir bersifat dinamis dan seringkali rapuh akibat ulah manusia. Dianmik artinya perubahan dapat terjadi dengan mudah, baik perubahan kmposisi kimia maupun pergerakan penyusunnya. Efek emisi polusi udara dalam pemanasan global berkaitan dengan perubahan iklim yang mendadak, membawa konsekuensi rawannya kesehatan manusia.
Gejala terjadinya hujan asam amat membahayakan kehidupan di muka bumi. Gejala munculnya hujan asam disebabkan oleh adanya bahan pencemar SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan, akhirnya dapat menurunkan kadar keasaman air hujan. Dalam hal ini ditandai dengan pH air hujan jauh di bawah nilai 5,6. Dampak adanya hujan asam ini antara lain:
a.    Kualitas air di permukaan tanah akan berubah
b.    Merusak tanaman produksi
c.    Logam berat dapat larut sehingga menimbulkan polusi air
d.    Bersifat korosif dan merusak material dan bangunan.

Terdapat gejala lain yaang membahatakan yakni gejala yang bersumber dari C02 dan gas buang pabrik berupa CFC, gas metana dan ozon serta N2O di lapisan troposfir yang mengabsorbir radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Gejala ini disebut efek rumah kaca yang dapat mengakibatkan gejala yang membahayakan kehidupan di bumi. Hal disebabkan panas matahari tersebut dapat terperangkap dalam lapisan troposfir. Gejala terperangkapnya panas matahari dalam lapisan troposfir disebut disebut efek rumah kaca. Gejala ini menghasilkan fenomena pemanasan global. Akibat lebih jauh dari pemanansan global adalah:
a.    es di kutub dapat mencair, dan terjadi aliran air dari kutub ke khatulistiwa
b.    Aliran alir ini mengakibatkan perubahan iklim
c.    Terjadi perubahan siklus hidup flora dan fauna yang sekaligus akan mempengaruhi dan meruusak ekosistem.

Polusi pada air dikenali lewat bau, rasa dan warna. Dengan membandingkannya dengan air bersih yang layak diminum polusi air disebabkan oleh berbagai jenis pencemar yang berasal dari sisa limbah industri, sampah organik dan anorganik. Polusi pada air dalam lingkungan kerja berkaitan dengan tersedianya air untuk dikonsumsi yang memenuhi syarat kesehatan. Di sini air harus memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitas. Sumber daya air yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk mencukupi makan dan minum, mencuci dan sebagainya. Apabila perkantoran dekat dengan industri, maka limbah industri dan rumah tangga terjadi pada sekitar daerah aliran sungai.
Limbah ini bisa berupa detergen, logam-logam berat, atau senyawa air raksa. Indikator awal yang dikenali dari pencemaran air ini antara lain dari segi bau, rasa dan warna. Ketiga hal inilah cara mudah untuk mendeteksi polusi pada air. Bila perkantoran dekat pada lingkungan pertanian, maka limbah dapat berasal dari bahan pembuat pupuk yang selanjutnya terjadi penimbunan yang melebihi daya dukung air sehingga tumbuhan dan binatang air tak mampu bertahan hidup lebih lama.

3.2.1. Sumber Emisi Gas

Sumber utama yang menyebabkan emisi gas buang pada kendaraan bermotor adalah tanki bahan bakar, karburator (mesin bensin), ruang engkol dan saluran pembuangan) knalpot. Tanki dan karburator mengeluarkan uap bensin ke udara sehingga akumulasi dari banyak mesin dapat menghasilkan polusi udara. Bensin memiliki sifat mudah menguap, dan pada suhu 40 bensin dapat menguap dengan cepat sebanyak (40-60)% dan pada suhu yang lebih tinggi akan menguap lebih banyak lagi. Keluarnya limbah dari ruang engkol terjadi karena setiap mesin membutuhkan ventilasi untuk memasukkan udara. Ruang ventilasi inilah yang memungkinkan uap bensin lewat saluran ini. Selanjutnya knalpot merupakan pengeluaran sisa hasil pembakaran bahan bakar. Gas buang tersebut merupakan hasil sisa pembakaran antara behan bakar dengan udara dan keluar lewat knalpot dan bercampur dengan oksigen di udara.
Dengan demikian ada tiga jenis limbah yang menyebabkan pencemaran udara yakni (a). Gas buang (b). Gas ruang engkol (c). Uap bahan bakar. Gas buang merupakan gas yang dikeluarkan melalui pipa pembuangan yang merupakan produk sisa pembakaran. Gas ini dikeluarkan melalui knalpot kendaraan bermotor. Gas ruang engkol merupakan limbah gas yang dikeluarkan dari ruang engkol. Uap bahan bakar merupakan limbah yang dikeluarkan dari tanki dan karburator pada mesin bensin. Ketiga jenis inilah yang akhirnya dihirup oleh manusia pada lingkungan kerjanya. Semua limbah ini berbahaya bagi kesehatan manusia.

3.2.2. Pengendalian Emisi Uap BBM

Emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor, bersifat mengganggu manusia sebab pada umumnya beracun. Upaya yang dilakukan untuk pengendaliannya dapat bersifat internal dan eksternal.
Pengendalian internal adalah pengendalian lewat perbaikan sistem pembakaran pada mesin. Caranya antara lain dengan mengupayakan agar sistem berfunsi dengan baik sehingga BBM dapat terbakar efektif, dan polusi udara dapat dikurangi. Misalnya menguruskan campuran udara dan bahan bakar dengan meningkatkan jumlah campuran udara dengan bahan bakar. Pengontrolan suhu udara yang masuk dapat diakukan agar udara dan bahan bakar dapat tercampur secara sempurna, De ngan demikian dapat mengefektuifkan pembakaran BBM pada mesin.Langkah berikutnya adalah menyempurnakan kerja karburator yakni mengupayakan agar karburator dapat berfungsi dengan baik.
Secara eksternal agar limbah gas buang kendaraan bermotor dapat dikendalikan maka kegiatan penghijauan lingkungan kerja perlu dilakukan sebaik-baiknya. Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dan dalam waktu yang tidak terlalu lama telah menjadi kebiasaan para pekerjanya. Hal yang sama dapat pula dilakukan pengendalian polusi air dengan menjaga air tidak tercemar dengan cara menutup tandon agar tidak dimasuki polutan yang membahayakan kehidupan manusia.

Daftar Pustaka:
Suparwoto. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMK. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Ditulis Oleh : Fery Arifian // 13.27
Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar