2012 ©feryarifian. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 17 Mei 2012

EKOSISTEM



Makhluk hidup di bumi ini tidak dapat hidup sendiri, baik hewan, tumbuhan, maupun manusia. Semua makhluk hidup akan saling berinteraksi, baik itu dengan sesama makhluk hidup maupun dengan lingkungannya. Seluruh interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya akan membentuk suatu ekosistem.
Apakah ekosistem itu? Terdiri atas apa sajakah komponen abiotik dan komponen biotik dalam suatu ekosistem tersebut? Apakah interaksi yang terjadi di dalam ekosistem merugikan ataukah menguntungkan? Semua pertanyaan tersebut dapat Anda ketahui jawabannya setelah Anda selesai mempelajari seluruh materi pada Bab Ekosistem ini. Oleh karena itu, pelajarilah bab ini dengan saksama.


A.  Komponen Ekosistem

Semua organisme memerlukan energi dan materi untuk kelangsungan hidupnya. Energi tersebut diperoleh dari lingkungannya. Produsen, contohnya pada tumbuhan, memerlukan cahaya, air, oksigen, dan karbon di soksida untuk membentuk nutrisi sebagai sumber energinya. Adapun pada hewan, contohnya serangga, membutuhkan produsen sebagai sumber energinya.
Serangga pun nantinya akan dimakan oleh konsumen yang lebih tinggi. Hal ini akan berlangsung terus sehingga akan terjadi aliran energi dan materi. Hal ini akan membentuk suatu siklus atau daur di suatu lingkungan yang sistematis. Semua proses tersebut disebut juga ekosistem.
Menurut Campbell (2006: 754), ekosistem merupakan interaksi organisme hidup dengan lingkungan abiotiknya yang terjadi di dalam suatu komunitas. Masih ingatkah Anda mengenai komunitas? Komunitas merupakan kumpulan beberapa populasi dari berbagai spesies yang hidup di suatu tempat.
Di dalam suatu ekosistem, interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya, melibatkan komponen-komponen, yaitu komponen abiotik dan komponen biotik. Komponen tersebut mampu memengaruhi perubahan yang terjadi di suatu ekosistem. Terdiri atas apa sajakah komponen abiotik dan komponen biotik? Agar Anda lebih memahami komponen-komponen dalam ekosistem, perhatikan uraian berikut.

1. Komponen Abiotik

Komponen abiotik merupakan segala hal selain makhluk hidup, misalnya suhu, air, cahaya matahari, angin, bebatuan, dan tanah. Komponen abiotik dapat memengaruhi komponen biotik, begitu pula sebaliknya.

a. Suhu

Suhu lingkungan merupakan faktor yang sangat penting bagi distribusi atau penyebaran suatu organisme. Hal tersebut karena suhu dapat memengaruhi proses biologis dan kemampuan suatu organisme dalam mengatur (regulasi) suhu tubuhnya secara tepat.
Sel dari suatu makhluk hidup dapat pecah apabila suhu lingkungannya di bawah 0°C karena cairan di dalam sel membeku. Begitu pun apabila suhu lingkungan berada di atas 45°C, protein yang terdapat di sebagian besar organisme dapat terdenaturasi atau rusak. Hanya sedikit jumlah organisme yang dapat melakukan metabolisme pada suhu yang sangat rendah ataupun suhu yang tinggi, contohnya burung pinguin. Burung ini dapat beradaptasi terhadap suhu lingkungan yang sangat ekstrim di bawah nol. Suatu ekosistem dapat memiliki suhu yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti angin dan cahaya matahari.

b. Air

Air merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan.Persediaan air di setiap habitat berbeda secara kualitas maupun kuantitas.Organisme yang hidup di daerah perairan maupun daratan berbeda dalammenyesuaikan diri dengan lingkungannya. Organisme yang hidup di air,seperti air tawar maupun air laut harus beradaptasi dengan keadaan air sekitarnya. Misalnya, organisme yang hidup di laut harus beradaptasi dengan kadar garam (salinitas) air laut. Adapun organisme yang hidup di daratan beradaptasi sesuai dengan habitatnya, seperti gurun, hutan tropis, dan savana.
Di dalam suatu ekosistem, air dapat memengaruhi organisme yang hidup di dalamnya. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi organisme dalam suatu ekosistem tersebut, yaitu suhu air, salinitas air, dan tingkat keasaman air.

c. Cahaya Matahari

Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi seluruh organisme hidup. Cahaya matahari menyediakan energi yang memengaruhi suatu ekosistem. Di daratan, tumbuhan menggunakan cahaya matahari untuk melangsungkan proses fotosintesis. Adapun di laut, alga dan Cyanobacteria menggunakan cahaya untuk melakukan fotosintesis.
Di dalam suatu ekosistem tertentu, intensitas cahaya bukanlah faktor utama bagi pertumbuhan suatu tumbuhan. Akan tetapi, di hutan-hutan yang tumbuhannya besar, tinggi, dan memiliki tudung (kanopi), tumbuhan kecil di bawahnya akan mengalami kompetisi dengan sesama tumbuhan lainnya untuk mendapatkan cahaya.
Cahaya juga sangat penting bagi perkembangan dan tingkah laku beberapa spesies tumbuhan dan hewan yang sensitif terhadap cahaya, terutama terhadap lamanya waktu siang (day time) dan lamanya waktu malam (night time). Misalnya, waktu berbunga pada tumbuhan dan saat beraktivitas pada hewan. Hewan yang beraktivitas pada malam hari atau nokturnal contohnya burung hantu. Adapun pada tumbuhan, ada jenis tumbuhan yang berbunga apabila waktu malam lebih lama dari waktu siang, begitu juga sebaliknya.

d. Angin

Angin dapat memengaruhi suhu lingkungan serta organisme yang hidup di dalamnya. Angin dapat memengaruhi organisme, seperti meningkatkan penguapan (evaporasi) pada hewan sehingga suhu tubuhnya berkurang dan meningkatkan transpirasi pada tumbuhan. Angin juga memiliki pengaruh yang positif bagi tumbuhan, seperti membantu penyerbukan tumbuhan.

e. Bebatuan dan Tanah

Struktur fisik, pH, dan komposisi mineral dari bebatuan dan tanah dapat memengaruhi jenis dan distribusi tumbuhan serta hewan yang memakan tumbuhan di atas tanah tersebut. Tanah merupakan media pertumbuhan dan tempat hidup bagi makhluk hidup. Misalnya, bagi tumbuhan, tanah merupakan tempat menancapkan akar dan sumber nutrisi. Adapun bagi sebagian hewan, tanah merupakan sarana untuk tempat tinggal serta berlindung dari pemangsa.

2. Komponen Biotik

Komponen biotik meliputi makhluk hidup. Komponen biotik terdiri atas manusia, hewan, tumbuhan serta organisme hidup lainnya. Sesama komponen biotik ini dalam suatu ekosistem terjadi interaksi. Interaksi yang terjadi dapat memengaruhi kepadatan maupun penyebaran suatu spesies dalam suatu ekosistem.
Di dalam suatu ekosistem, setiap komponen biotik memiliki cara hidup berbeda dengan komponen biotik yang lainnya sehingga interaksi yang terjadi dapat menghasilkan berbagai macam karakter dalam suatu ekosistem. Interaksi yang terjadi ini tidak hanya antarkomponen biotik, tetapi juga dengan komponen abiotiknya sebagai lingkungan tempat komponen biotik hidup.
Misalnya, di padang rumput interaksi yang terjadi antarkomponen biotiknya adalah antara tumbuhan dan binatang herbivora (pemakan tumbuhan). Hal tersebut memunculkan karakter, bahwa di padang rumput hewan dominan yang hidup adalah hewan herbivora. Adapun interaksi antara komponen biotik dan komponen abiotiknya, misalnya karakter kecepatan angin di daerah padang rumput dan tumbuhan semak (rumput).
Kecepatan angin di daerah ini cukup kencang karena tumbuhan yang ada hanya tumbuhan kecil seperti semak sehingga tidak ada penghalang angin melewati daerah tersebut.

3. Satuan Organisasi dalam Ekosistem

Ekosistem merupakan suatu kesatuan fungsional yang cukup kompleks. Di dalamnya terdapat komponen abiotik dan biotik yang saling berhubungan atau berinteraksi. Di dalam suatu ekosistem terdapat satuan organisasi yang berbeda. Satuan organisasi yang menyusun ekosistem terdiri atas individu, populasi, dan komunitas.
Individu merupakan satuan fungsional yang paling kecil di dalam suatu ekosistem. Individu adalah organisme yang hidupnya berdiri sendiri dan secara fisiologi bersifat bebas, misalnya satu ekor monyet. Satu ekor monyet ini merupakan organisme yang hidupnya berdiri sendiri.
Tingkat organisasi selanjutnya dalam suatu ekosistem, disebut populasi. Apakah Anda mengetahui pengertian populasi? Anda perhatikan hewan piaraan yang ada di rumah Anda, misalnya ayam. Di kandang ayam terdapat beberapa ekor ayam. Sekumpulan ayam itulah yang dinamakan populasi. Jadi, populasi adalah sekumpulan individu yang sejenis atau satu spesies yang menempati habitat tertentu dalam satu waktu tertentu.
Adapun tingkat organisasi tertinggi dari suatu ekosistem, yaitu komunitas. Komunitas merupakan sekelompok populasi dari berbagai spesies yang menghuni suatu daerah. Misalnya, komunitas sawah. Di dalam sawah terdapat berbagai macam populasi, seperti populasi padi, populasi ular, populasi katak, dan populasi burung. Sekarang, dapatkah Anda membedakan antara individu, populasi, dan komunitas?

B.  Tipe-tipe Ekosistem

Ekosistem tersusun atas berbagai komponen dan satuan organisasi yang menyusunnya. Di dalam ekosistem terjadi interaksi antar komponen yang menjadikan ekosistem memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Oleh karenanya, ekosistem terdiri atas beberapa tipe. Ekosistem terdiri atas ekosistem darat, ekosistem air tawar, dan ekosistem air laut. Untuk lebih jelasnya pelajari uraian berikut.

1. Ekosistem Darat

Ekosistem darat atau dikenal juga ekosistem terestrial, merupakan wilayah atau lingkungan fisiknya berupa daratan. Pengelompokan ekosistem darat didasarkan atas tipe struktur vegetasi yang dominan hidup atau dinamakan bioma.
Jenis bioma terdiri atas bioma gurun, bioma padang rumput, bioma tundra, bioma savana, bioma hutan hujan tropis, bioma taiga, dan bioma tundra.
              
a) Bioma gurun

Gurun merupakan daerah kering yang curah hujannya hanya 20 cm per tahun. Vegetasi dominan pembentuk bioma gurun adalah kaktus. Adapun hewan yang hidup di bioma ini umumnya aktif pada malam hari atau nokturnal. Hal tersebut merupakan adaptasi terhadap suhu lingkungan yang sangat panas dan untuk mengurangi kehilangan cairan tubuh.


b) Bioma padang rumput

Bioma ini memiliki karakteristik beriklim sedang, dengan curah hujan  berkisar antara 25–75 per tahun dan vegetasi dominannya adalah rumput. Sistem perakaran rumput bercabang-cabang sehingga apabila terjadi kemarau bioma ini akan tetap berwarna hijau karena akarnya bercabang banyak di dalam tanah untuk mengambil air. Adapun hewan yang hidup di bioma ini adalah kelinci, serigala, dan kuda.


c) Bioma savana

Savana merupakan padang rumput yang didominasi oleh rumput dengan semak serta pohon yang terpencar. Savana memiliki curah hujan sekitar 90–150 cm per tahun. Hewan yang hidup di dalamnya, antara lain gajah, kuda, dan zarafah.


d) Bioma hutan hujan tropis

Bioma ini terdapat di daerah khatulistiwa termasuk sebagian besar wilayah Indonesia. Bioma hutan hujan tropis memiliki suhu rata-rata 25°C dan curah hujan yang cukup tinggi, yaitu antara 200–400 cm per tahun. Vegetasi yang hidup di daerah ini sangat heterogen atau beraneka ragam. Hewan yang hidup di dalamnya, antara lain monyet, harimau, dan serangga.


e) Bioma tundra

Tundra memiliki dua jenis, yaitu tundra artik dan tundra alpin. Tundra artik adalah tundra yang berada dekat daerah kutub utara sedangkan tundra alpin adalah tundra yang terdapat di dataran tinggi atau puncak gunung. Vegetasi yang dominan di bioma tundra adalah rumput alang-alang dan lumut daun.
Adapun hewan yang terdapat pada bioma ini, antara lain
kelinci dan serigala. 


f) Bioma taiga

Taiga merupakan bioma yang memiliki ciri beriklim musim dingin yang panjang. Taiga disebut juga hutan konifer (pinus). Hutan ini selalu hijau oleh karenanya konifer disebut juga tumbuhan evergreeen. Vegetasi yang dominan pada bioma ini adalah tumbuhan pinus. Adapun hewan yang hidup pada bioma ini, antara lain kelinci, serangga, dan beruang.


2. Ekosistem Air Tawar

Ekosistem ini memiliki beberapa karakteristik, seperti variasi suhu yang perubahannya tidak menyolok, tumbuhan yang dominannya alga, dan keadaan lingkungannya dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Ekosistem air tawar dibagi menjadi dua, yaitu lotik dan lentik. Ekosistem air tawar lotik merupakan perairan berarus, contohnya adalah sungai. Adapun ekosistem air tawar lentik memiliki ciri airnya tidak berarus. Contoh perairan lentik adalah danau. Danau memiliki tiga wilayah horizontal, yaitu zona limnetik, zona litoral, dan zona profundal.
Zona limnetik adalah wilayah perairan yang masih bisa di tembus oleh cahaya matahari. Di zona ini banyak didominasi oleh zooplankton dan nekton. Zona litoral merupakan wilayah tepi pada danau dan sungai. Organisme yang hidup di dalamnya adalah katak, serangga, dan Hydrilla. Adapun zona profundal adalah daerah dasar pada suatu danau atau kolam. Organisme yang hidup di dalamnya adalah dekomposer.

3. Ekosistem Air Laut

Ekosistem air laut merupakan ekosistem yang paling luas di bumi ini. Ekosistem air laut memiliki tiga jenis zona, yaitu zona litoral, neritik, dan pelagik. Zona litoral merupakan daerah pantai yang terletak di antara pasang tertinggi dan surut terendah. Zona neritik adalah daerah laut dangkal yang selalu tertutup air meski pada waktu surut.
Adapun zona pelagik adalah daerah perairan terbuka yang memiliki kedalaman 6.000–10.000 m. Zona pelagik terdiri atas daerah epipelagik, mesopelagik, dan batipelagik.

C.  Suksesi

Suatu komunitas keadaannya tidak akan selalu tetap, tetapi selalu mengalami perubahan. Perubahan ini biasanya terjadi dari suatu komunitas menuju bentuk komunitas lainnya. Misalnya, perkebunan kelapa sawit yang dibiarkan setelah masa panen dan tid`k ditanami lagi, apabila dibiarkan akan tumbuh tanaman spesies lain yang akan menggantikan formasi kelapa sawit. Hal tersebut menyebabkan perubahan di komunitas tersebut. Perubahan atau perkembangan suatu komunitas melalui tahap-tahap tertentu disebut suksesi. Terdapat dua tipe suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

1. Suksesi Primer

Suksesi primer merupakan munculnya suatu komunitas baru pada suatu daerah yang sebelumnya tidak terdapat komunitas. Contoh suksesi primer terjadi pada gunung berapi yang telah meletus. Daerah sekitar akan  mengalami kerusakan dan tidak terdapat organisme. Lama-kelamaan daerah sekitarnya tersebut akan ditempati kembali oleh organisme. Organisme awal atau pionirnya adalah lichenes (lumut kerak).

2. Suksesi Sekunder

Suksesi sekunder merupakan pembentukan suatu ekosistem yang telah rusak ke keadaan awalnya sebelum terganggu. Suksesi ini dapat terjadi karena kebakaran, perusakan oleh manusia, dan gempa bumi. Proses suksesi sekunder ini lebih cepat dibandingkan dengan suksesi primer. Hal ini dikarenakan pada suksesi sekunder tidak diperlukan lagi adanya tahapan pembentukan komunitas pionir.

D.  Peran Komponen Ekosistem

Komponen abiotik maupun komponen biotik memiliki perannya masing-masing di dalam suatu ekosistem. Telah Anda ketahui sebelumnya, bahwa di dalam ekosistem, terjadi interaksi antarkomponen ekosistem. Terdapat beberapa jenis interaksi yang berlangsung di dalam ekosistem, yaitu interaksi antarindividu, interaksi antarpopulasi, dan interaksi antara komponen abiotik dan biotik.
Interaksi antarindividu merupakan interaksi yang dapat terjadi pada individu sejenis ataupun berbeda jenis. Setiap organisme hidup di suatu tempat atau habitat. Organisme atau individu sejenis membentuk kumpulan atau kelompok dan dalam kurun waktu tertentu akan membentuk populasi.
Dari terbentuknya populasi akan timbul interaksi antarpopulasi. Interaksi antarpopulasi ini terjadi tidak hanya dengan populasi yang speciesnya sama, tetapi juga dengan populasi dari spesies yang berbeda. Kumpulan berbagai macam populasi yang saling berinteraksi ini membentuk komunitas. Di dalam komunitas, interaksi tidak hanya terjadi antar komponen biotik saja, tetapi juga komponen biotik dan komponen abiotiknya.
Di dalam ekosistem, setiap komponen memiliki peran. Individu, populasi, komunitas, serta lingkungan abiotiknya mampu menimbulkan aliran energi dan daur biogeokimia.

1. Peran Komponen Ekosistem dalam Aliran Energi

Di dalam suatu ekosistem, terjadi interaksi antara komunitas dan komunitas lainnya serta lingkungan abiotiknya. Interaksi ini dapat menyebabkan aliran energi melalui peristiwa makan dan dimakan (predasi). Pada peristiwa aliran energi ini, komponen ekosistem, khususnya komponen biotik, memiliki tiga peran dasar, yaitu sebagai produsen, konsumen dan dekomposer.
Menurut Campbell (1998: 1146), penyusun utama produsen dalam suatu ekosistem, khususnya di daratan adalah tumbuhan. Organisme ini mampu membuat makanannya sendiri dengan bantuan sinar matahari. Peristiwa ini disebut fotosintesis. Produsen merupakan organisme autotrof, yaitu organisme yang mampu menyusun atau membuat makanannya sendiri. Adapun konsumen adalah organisme heterotrof, yaitu organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya, organisme ini bergantung pada organisme lain.
Komponen biotik yang terakhir, yaitu dekomposer (pengurai). Dekomposer adalah organisme yang menguraikan sisa-sisa organisme yang telah mati menjadi zat-zat organik sederhana. Zat-zat sederhana ini akan digunakan kembali oleh produsen sebagai bahan nutrisi untuk membuat makanannya. Proses tersebut akan berlangsung terus-menerus di dalam suatu ekosistem.
Adanya peran komponen biotik sebagai produsen, konsumen, dan dekomposer menimbulkan aliran energi dari produsen, konsumen hingga ke dekomposer. Proses aliran energi ini terjadi pada peristiwa rantai makanan.
Peristiwa perpindahan energi terjadi melalui proses makan dan dimakan di dalam suatu rantai makanan. Peristiwa tersebut membentuk struktur trofik. Struktur trofik terdiri atas tingkat-tingkat trofik. Setiap tingkat trofik terdiri atas kumpulan berbagai organisme. Tingkat trofik pertama ditempati oleh produsen atau organisme autotrof. Pada tingkat ini, produsen ekosistem darat adalah tumbuhan, sedangkan pada ekosistem perairan adalah ganggang dan fitoplankton.
Tingkat trofik kedua ditempati oleh organisme heterotrof atau konsumen. Konsumen adalah organisme yang bergantung kepada organisme lain sebagai sumber makanannya. Konsumen pada tingkat trofik kedua ini adalah herbivora. Konsumen juga terdiri atas tingkat trofik ketiga, keempat, dan seterusnya.
Aliran energi tidak hanya terjadi pada tingkatan yang sederhana, yaitu rantai makanan, tetapi terjadi juga pada tingkatan yang lebih kompleks, yaitu pada jaring-jaring makanan. Jaring-jaring makanan ini tersusun oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Aliran energi mulai dari produsen hingga konsumen, jumlah akhirnya tidak sama.
Apabila disusun secara berurutan mulai dari produsen hingga konsumen, jumlah energi yang ada akan berbentuk seperti piramida. Setiap potongan dalam piramida tersebut menunjukkan jumlah energi yang tersimpan. Kehilangan energi dari rantai makanan dapat digambarkan dalam bentuk piramida energi. Pada piramida energi, semakin ke puncak energi yang tesimpan semakin sedikit. Adapun berkurangnya transfer energi pada setiap tingkat trofik dapat digambarkan dengan piramida biomassa. Adapun, piramida jumlah, dapat menggambarkan perbedaan jumlah individu pada setiap tingkat trofik.

2. Peran Komponen Ekosistem dalam Daur Biogeokimia

Unsur-unsur kimia baik organik maupun anorganik sangat dibutuhkan oleh setiap komponen dalam suatu ekosistem. Di dalam suatu ekosistem, jumlah unsur-unsur kimia tersebut terbatas. Oleh karenanya, harus ada daur ulang unsur-unsur kimia yang ada agar tetap tersedia dan kebutuhan organisme akan unsur-unsur kimia terpenuhi. Selain unsur-unsur kimia, air pun mengalami daur ulang.
Menurut Campbell (1998: 1153), daur ulang berbagai jenis unsur nutrien yang melibatkan komponen ekosistem baik komponen abiotik dan komponen biotik disebut juga daur biogeokimia. Nutrien disini mencakup air, karbon, nitrogen, dan fosfor. Setiap unsur nutrien mengalami berbagai jenis siklus. Siklus tersebut merupakan bagian dari daur biogeokimia. Daur biogeokimia ini dikenal ada beberapa macam, yaitu siklus air, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus fosfor.

a. Siklus Air

Air merupakan materi yang sangat dibutuhkan oleh organisme hidup. Air ini dimanfaatkan oleh berbagai organisme dengan cara bermacammacam. Pada tumbuhan, air di dalam tanah diserap melalui akar. Air digunakan untuk pertumbuhan, selebihnya air dilepaskan dalam bentuk uap air ke udara (atmosfer). Proses pelepasan air dari tanah ke udara dalam bentuk uap air disebut evaporasi. Adapun uap air yang dilepaskan oleh tumbuhan ke udara disebut transpirasi.
Pada manusia dan hewan, air diperoleh dengan cara meminumnya dan juga dari tumbuhan serta hewan yang dimakan. Air keluar dari tubuh manusia dan hewan dalam bentuk keringat dan urine. Air hasil dari evaporasi dan transpirasi organisme, terkumpul di udara sehingga menyebabkan kelembapan di atmosfer meningkat. Akibatnya terbentuklah awan, kemudian turunlah hujan. Air hujan akan terus mengalir ke permukaan tanah dan digunakan kembali oleh seluruh organisme hidup.

b. Siklus Karbon

Karbon merupakan unsur dasar dari semua senyawa organik. Di atmosfer, karbon terdapat dalam bentuk gas karbon dioksida (CO2). Karbon dioksida dalam suatu lingkungan dibutuhkan oleh produsen, yaitu tumbuhan. Tumbuhan menggunakan karbon dioksida sebagai penyusun bahan organik melalui proses fotosintesis. Bahan organik tersebut berupa glukosa. Glukosa ini merupakan sumber energi bagi tumbuhan untuk pertumbuhannya. Kemudian, bahan organik dari tumbuhan digunakan oleh organisme lainnya melalui rantai makanan. Bahan organik pada tumbuhan banyak terkandung dalam batang. Adapun pada manusia dan hewan, bahan organik banyak terdapat pada bagian tulang.
Ketika organisme mati, baik manusia, hewan, ataupun tumbuhan, akan diuraikan menjadi karbon dioksida oleh dekomposer. Akibat proses perubahan suhu dan tekanan bumi, organisme yang membusuk ini dapat membentuk fosil. Proses pembentukan fosil berlangsung sangat lama hingga mencapai jutaan tahun. Fosil ini dapat membentuk bahan bakar fosil berupa batubara dan minyak bumi. Bahan bakar fosil digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dan menghasilkan karbon dioksida. Karbon dioksida ini kembali memasuki siklus karbon dan akan berlangsung demikian seterusnya

c. Siklus Nitrogen

Nitrogen merupakan salah satu unsur yang penting dalam ekosistem. Menurut Campbell (1998: 1156) jumlah nitrogen yang terdapat di atmosfer sekitar 80% dari berbagai gas-gas yang ada di atmosfer. Nitrogen ditemukan dalam semua asam amino, yang merupakan komponen penyusun protein pada organisme. Nitrogen yang tersedia bagi tumbuhan hanya dalam dua bentuk mineral tanah, yaitu amonia (NH4+) dan nitrat (NO3.-).
Beberapa bakteri dapat mengikat nitrogen secara langsung dari udara, contohnya Azotobacter. Azotobacter mampu mengubah nitrogen menjadi amonia. Amonia kemudian akan diubah menjadi senyawa ion nitrit (NO2) oleh bakteri nitrit. Ion nitrit ini diubah lagi menjadi ion nitrat (NO3-). Oleh tumbuhan, ion nitrat diubah menjadi molekul organik berupa asam amino. Tumbuhan sebagai produsen yang mengandung nitrogen ini akan dimanfaatkan oleh konsumen dan dekomposer. Dekomposer ini mampu mengubah senyawa amino menjadi amonia. Siklus ini akan berlangsung terus-menerus dalam suatu ekosistem.

d. Siklus Fosfor

Fosfor di alam terdapat dalam bentuk ion fosfat (PO43–). Ion fosfat di alam terdapat dalam bebatuan. Ion fosfat dalam bebatuan ini akan terbawa menuju perairan melalui proses pelapukan bebatuan dan erosi. Di perairan ini, fosfat tersebut akan membentuk endapan. Oleh karena pergerakan dasar bumi yang tidak stabil, menyebabkan endapan ini muncul ke permukaan.
Adapun di darat, ion fosfat diserap oleh tumbuhan dari dalam tanah. Kemudian, tumbuhan tersebut dimakan oleh herbivora dan herbivora dimakan oleh karnivora. Pada hewan, fosfat dikeluarkan melalui urine dan feses. Oleh dekomposer, ion fosfat yang merupakan senyawa anorganik ini akan diuraikan dan menjadi fosfor (P) di dalam tanah. Fosfor di dalam tanah ini kemudian di ambil kembali oleh tumbuhan. Proses tersebut akan terus berlangsung membentuk suatu siklus, yang dinamakan siklus fosfor.

E.  Pemanfaatan Komponen Ekosistem bagi Kehidupan

Seperti yang telah Anda pelajari sebelumnya, bahwa komponen ekosistem yang terdiri atas komponen biotik dan komponen abiotiknya memiliki manfaat penting bagi kehidupan ini. Komponen abiotik, contohnya air, merupakan materi yang tidak dapat dipisah dari kehidupan ini. Air merupakan komponen yang penting dalam siklus biogeokimia.
Banyak sekali manfaat air bagi kehidupan, contohnya sebagai sarana transportasi, pengairan persawahan, dan bahkan sebagai penggerak turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Contoh komponen lainnya yang juga memiliki peran penting bagi kehidupan adalah cahaya matahari, tanah, dan suhu. Cahaya matahari merupakan sumber energi bagi hampir seluruh makhluk hidup di bumi ini. Bagi tumbuhan, cahaya matahari digunakan untuk proses fotosintesis. Telah Anda ketahui pada subbab sebelumnya, bahwa fotosintesis bertujuan menghasilkan zat makanan bagi tumbuhan. Manusia memanfaatkan cahaya matahari untuk beberapa keperluan. Manusia umumnya memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh radiasi cahaya matahari, seperti untuk menjemur pakaian, mengeringkan ikan asin, menguapkan tambak garam untuk diambil garamnya, bahkan untuk menggerakkan motor listrik tenaga surya.
Komponen abiotik lainnya dalam suatu ekosistem, contohnya tanah. Tanah bagi sebagian organisme sangatlah penting. Bagi tumbuhan, tanah merupakan tempat untuk menancapkan tubuhnya agar dapat tumbuh dan tegak. Selain itu, bagi tumbuhan, tanah juga merupakan tempat terdapatnya sumber makanan, seperti unsur-unsur nutrien. Kemudian, tanah bagi hewan-hewan tertentu, berfungsi sebagai tempat tinggal dan pelindung dari pemangsa serta cuaca yang ekstrim.
Komponen biotik, seperti produsen, konsumen, dan dekomposer yang di dalamnya mencakup manusia, hewan, tumbuhan memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan. Masing-masing dari komponen tersebut dapat saling berinteraksi dan terlibat dalam proses perpindahan energi pada suatu rantai makanan. Apabila salah satu dari komponen tersebut punah atau langka maka akan terjadi ketidakseimbangan ekosistem, yang mana hal ini sangat merugikan bagi manusia.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal dan pikiran, mencoba memanfaatkan berbagai komponen biotik bagi kesejahteraannya. Sejak lama, manusia telah memanfaatkan berbagai hewan untuk diternakan, diambil dagingnya, digunakan sebagai obat, bahkan sebagai alat transportasi. Selain hewan, manusia juga telah lama memanfaatkan berbagai tumbuhan untuk dibudidayakan sebagai sumber makanan dan obat-obatan.
Dapat disimpulkan bahwa setiap komponen biotik memiliki peran yang penting bagi kehidupan ini. Dari uraian yang telah dijelaskan, Anda pasti telah dapat menyimpulkan sesuai pemahaman Anda mengenai pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan ini, bukan? Sekarang dapatkah Anda menyebutkan contoh lainnya mengenai pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan ini?.

Daftar Pustaka :
Firmansyah, Ricky dkk. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi untuk SMA/ MA. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2009.

Ditulis Oleh : Fery Arifian // 19.44
Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar